Langsung ke konten utama

OPINI 1.0

 





Dekaden Literasi yang Berujung Apatis


Oleh : Diah fitriatus sholihah 

Banyak pepatah mengatakan “membaca adalah jendela dunia”. Ada apa dengan kalimat tersebut? . Beribu motivasi tentang membaca, beribu kata-kata menegaskan bahwa membaca buku adalah dunia ilmu dan pengetahuan. Akan tetapi, kondisi seperti apa yang saat ini terjadi? Miris. Mahasiswa yang dikatakan sebagai agent of change (agen perubahan), agent of control sosial dan agent of culture tidak lagi mengenal apa itu literasi. Bahkan game online saat ini menjadi asumsi dan tradisi tersendiri di warung kopi. Sedangkan dari subtansi mahasiswa sendiri tidak mengenal, apa itu literasi dan bagaimana menanam serta memupuk budaya revitalisasi yang dulu, agar hidup kembali. Mahasiswa terbagi menjadi dua; pertama, mahasiswa akan belajar saat dihadapkan tugas dan permasalahan, atau kedua, dia akan belajar mempersiapkan sebuah tugas dan permasalahan sebelum menghadapi ujian. Sejatinya seorang agen perubahan tapi, tidak mau melakukan perubahan. Yang seharusnya melakukan pergerakan, demi terwujudnya perubahan, namun tetap memilih nyaman rebahan di zona nyaman. Kalau mahasiswa sekarang tidak mengenal literasi di perkembangan zaman, bagaimana mereka mengenal banyaknya budaya di Indonesia. Dulu mahasiswa mati karena melawan penguasa,  sekarang mahasiswapun apatis terhadap budaya literasi dalam perkembangan zaman. Mahasiswa yang seharusnya harus belajar sejarah dari awal hingga akhir, dalam bidang pendidikan ataupun agama agar tidak mudah dibodohi oleh penindasan kekuasaan yang disalahgunakan. Kalau mahasiswa lambat waktu bermental lemah dan dangkal dalam berfikir, bagaimana ingin melawan ketidakadilan, mengentaskan kemiskinan  dan mewujudkan kesejahteraan. Sedangkan semua mahasiswa apatis terhadap budaya literasi dalam perkembanggan zaman. Bagaimana mau menggulingkan penguasa yang menyalahgunakan kekuasaannya dan semena-mena terhadap rakyat jelata?.

Di Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) sendiri, terdapat banyak sekali ditemukan mahasiswa yang lebih suka game online, daripada membaca buku di perpustakaan. Dulu kantin atau warung kopi menjadi sebuah tempat untuk berdiskusi dan literasi, namun kini penuh dengan mahasiswa yang mencari kelancaran wifi demi kesenangan tersendiri. Kuliah bagi mereka bukanlah suatu kewajiban yang mana seharusnya  memahami esensi revitalisasi, namun sebagai asumsi  formalitas tersendiri. Pemikiran yang sehat selalu mengkonsumsi sesuatu yang efektif. Sandiwara dunia membuat silau segalanya, sehingga tidak terasa perjalanan hidup, tanpa kita sadari telah terbawa arus perkembangan zaman.

 Keadaan ini selalu saja dilema dari situasi dan kondisi perkembangan saat ini. jika kapasitas pendidikan mampu beradabtasi dengan perkembangan zaman sesuai dengan mekanisme kehidupan. Lantas mengapa kita punya kapasitas pendidikan dan status sosial yang tinggi, namun masih saja bertindak tidak sesuai dengan prosedur dan mekanisme dalam kenyataan sosial. Budaya dan literasi yang menjadi hal aneh namun nyata seperti saat ini. Mahasiswa terlalu banyak dan sibuk menginginkan dan mengejar hal yang besar, tanpa menyadari bahwa kehidupan ini dibangun dari hal kecil yang dilakukan dengan kesungguhan yang besar.

 Literasi  tidak hanya diartikan dengan membaca buku, namun juga sangat perlu dalam membaca keadaan sosial. Lantas apa yang membuat mahasiswa dan siswa sama, apakah mereka teguh pada pendiriannya atau yang buta pada pergantian masa?

 Nilai akhir dari proses pendidikan, sejatinya  ter-rekapitulasi  dari keberhasilan  menciptakan perubahan dirinya dan lingkungan, itulah fungsi dari pendidikan yang sesungguhnya. Lantasbagaimana budaya  literasi yang saat ini stagnan. Penyakit, musibah dan perang barangkali memang bisa membunuh ratus ribuan orang. Akan tetapi, negeri ini  butuh banyak pemuda yang berani membawa perubahan dan semoga salah satu dari harapan bangsa adalah kita. Pengalaman dalam berliterasi akan menjadi bekal yang sangat bermanfaat dalam menciptakan perubahan. Seorang agent perubahan tidak hanya mahir dalam dimensi intelektual, namun bonus dari budaya literasi adalah dimensi spiritual yang akan menciptakan perubahan mindset  masyarakat sekitar dengan pembudayaan literasi moral. Yang seharusnya kita  menumbuhkan dan memupuk budaya tri-darma yakni: pendidikan, penelitian dan pengabdian sebagai nilai akhir kesuksesan literasi perkembangan zaman.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BERITA: Bahas Sertifikasi Haji, Prof. Ali beri 4 Kompetensi pada Calon Pembimbing Haji

  M. Ali Aziz, Guru besar UINSA saat memberikan pembekalan sertifikasi haji Reporter & Penulis : Diah Fitriatus Sholihah Selasa (15/12), Kementrian Agama Republik Indonesia (KEMENAG RI) Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji bertajuk “Strategi Pembimbingan Manasik Haji dan Ziarah”. Acara ini dilaksanakan secara luring yang bertempat di asrama haji, Embarkasi Surabaya, serta disiarkan secara daring melalui aplikasi Zoom. Acara tersebut mengundang Muhammad Ali Aziz, Guru besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menjadi salah satu narasumber. Ali Aziz menyampaikan beberapa poin kompetensi yang harus dimliki oleh pembimbing haji.  “Orang yang akan menjadi pembimbing haji minimal telah menguasai empat kompetensi ini, yaitu Kepribadian, Profesional, Komunikatif, dan Sosial,” jelas pria yang kerap disapa Prof. Ali tersebut. Menurut Prof. Ali, seorang pembimbing haji harus berakhlak mulia dan bersikap dewasa sehingga pembimbi...

OPINI 3.0

Media Sosial dan Nilai Nilai Masa Depan by Diah Fitriatus Media Sosial berkembang menjadi ruang public (new public sphere), di ruang ini demokrasi berjalan sebenar-benarnya (atau serusak-rusaknya). Media sosial menjadi ruangan public yang bersifat paling sederajat, tidak ada perbedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat atas dasar kekuasaan, hak-hak istimewa, pangkat atau sesuatu yang tidak mungkin di dapat dari media dan ruang public lain. Dalam dunia masyarakat ataupun pendidikan saja, tidak mampu untuk sederajat itu, masih ada beberapa derajat sosial  yang menjembatani, dosen-mahasiswa, guru-murid, pandai-bodoh, remaja-dewasa dan sebagainya dalam dunia media sosial. Keyakinan positive atau negative masyarakat  demikian tidak perlu ada, semua adalah sama. Media sosial harus bisa menjembatani ruang komunikasi di dunia nyata yang kadang kaku. Pasca ditemukannya mesin cetak yang bisa dipindah oleh Gutteberg, majalah Koran dan beberapa media cetak dianggap mampu me...