Langsung ke konten utama

Postingan

PROFILE

Postingan terbaru

BERITA: Bahas Sertifikasi Haji, Prof. Ali beri 4 Kompetensi pada Calon Pembimbing Haji

  M. Ali Aziz, Guru besar UINSA saat memberikan pembekalan sertifikasi haji Reporter & Penulis : Diah Fitriatus Sholihah Selasa (15/12), Kementrian Agama Republik Indonesia (KEMENAG RI) Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji bertajuk “Strategi Pembimbingan Manasik Haji dan Ziarah”. Acara ini dilaksanakan secara luring yang bertempat di asrama haji, Embarkasi Surabaya, serta disiarkan secara daring melalui aplikasi Zoom. Acara tersebut mengundang Muhammad Ali Aziz, Guru besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menjadi salah satu narasumber. Ali Aziz menyampaikan beberapa poin kompetensi yang harus dimliki oleh pembimbing haji.  “Orang yang akan menjadi pembimbing haji minimal telah menguasai empat kompetensi ini, yaitu Kepribadian, Profesional, Komunikatif, dan Sosial,” jelas pria yang kerap disapa Prof. Ali tersebut. Menurut Prof. Ali, seorang pembimbing haji harus berakhlak mulia dan bersikap dewasa sehingga pembimbi...

RESENSI BUKU

                                RESENSI BUKU : MERASA PINTAR BODOH SAJA TAK PUNYA v   Identitas Buku Judul Buku : Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya Penulis : Rusdi Mathari Penerbit : Buku Mojok Tahun Terbit : 2016 Jumlah halaman : 226 halaman v   Sinopsis Buku :   Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya: Kisah Sufi dari Madura. Sepintas, dari halaman sampul buku dapat ditebak bahwa cerita yang dikisahkan dalam buku ini akan mengundang senyum dan gelak tawa pembaca. Namun demikian, ketika halaman pertama buku ini dibuka pembaca barangkali akan sedikit dibingungkan dengan potongan lirik qawwali-nya Gulzar yang disampaikan oleh Mahfud Ikhwan di bagian kata pengantar “ia memperdayamu… memperdayamu” diikuti dengan kalimat ajakan untuk tidak mempercayai isi buku ini karena akan memperdaya para pembacanya.   Sepintas tiga puluh kumpulan kisah dalam buku ini sang...

OPINI 4.0

  Sejarah Lahirnya Kitab Kuning Di Pesantren by Diah Fitriatus Menurut kalangan para santri, istilah kitab kuning(yellow book)  sangat akrab sekali sewaktu mereka tinggal di pondok pesantren. Lapiran atau lembaran naskah yang di tulis  dengan teks berbahasa arab di atas kertas berwarna kuning, berisi tema-tema keislaman dari berbagai disiplin ilmu keilmuan yang di pelajari di pondok pesantren; ilmu akidah, ilmu akidah, ilmu fikih, ilmu akhlak, ilmu bahasa dan banyak lagi. Tetapi sedikit dari mrereka yang mengetahui sejarah asal mula lahirnya “Kitab Kuning”. Dikemukakan dalam tulisan Martin Van Brueinessen berjudul “pesantren and kitab kuning: Maintenance And Countinuation Of A Tradition Of Religius Learning’’ menuliskan dalam pengantarnya bahwa “Kitab Kuning” di kenal akrab oleh kalangan santri nusantara , bentukknya yang mengunakan kertas berwarna kuning disertai komentar (syarh) pada sisi margarin atau bersambung (hasyiyyah) dengan teks pokok (matan)  kitab tersebu...

OPINI 3.0

Media Sosial dan Nilai Nilai Masa Depan by Diah Fitriatus Media Sosial berkembang menjadi ruang public (new public sphere), di ruang ini demokrasi berjalan sebenar-benarnya (atau serusak-rusaknya). Media sosial menjadi ruangan public yang bersifat paling sederajat, tidak ada perbedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat atas dasar kekuasaan, hak-hak istimewa, pangkat atau sesuatu yang tidak mungkin di dapat dari media dan ruang public lain. Dalam dunia masyarakat ataupun pendidikan saja, tidak mampu untuk sederajat itu, masih ada beberapa derajat sosial  yang menjembatani, dosen-mahasiswa, guru-murid, pandai-bodoh, remaja-dewasa dan sebagainya dalam dunia media sosial. Keyakinan positive atau negative masyarakat  demikian tidak perlu ada, semua adalah sama. Media sosial harus bisa menjembatani ruang komunikasi di dunia nyata yang kadang kaku. Pasca ditemukannya mesin cetak yang bisa dipindah oleh Gutteberg, majalah Koran dan beberapa media cetak dianggap mampu me...

PUISI

  Tarian Padi Oleh En-MIM Aku lahir dari tangan pemuda pemudi Tumbuh menjadi bayangan merunduk menjadi cita.   Tarian Padi Di atas bentangan sawah, kami mempekerjakan sapi dan menanam padi, keringat bercucuran, cita-citaku cerah membentang.   Tarian padi Ketika pagi menjelang, rih angin mengantarkan kicau burung kepadaku, menjelang siang tandus surya menyengat punggungku, setelah sore mulai beranjak menuju tempat belajar paling nyaman.   Sampai di suatu hari, kami memanen cita setelah di besarkan berbulan-bulan lamanya.   Gubuk suci 20-November-2020.

OPINI 2.0

  Revolusi Tantangan Dakwah di Era Industri 4.0 Oleh : Diah Fitriatus Sholihah Jalan dakwah bukan rentang yang pendek dan bebas hambatan, bahkan jalan dakwah penuh dengan tantangan dan kesulitan dengan jarak yang terkira jauhnya.Hal tersebut perlu kita pahami dalam setiap aktivitas dakwah, agar para juru dakwah siap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi di perjalanan, sehingga   revolusi komunikasi dan informasi di jalan dakwah bisa kita atasi. Allah telah memberikan rambu-rambu kepada kita tentang ini: QS. Surat al-Ankabut {29}: 2-3 Tantangan dakwah terbesar di era revolusi industry 4.0 ini adalah ketertinggalan aktivitas dakwah. Hal tersebut disebabkan oleh permasalahan laten yang tak kunjung menemui perpecahan penyelesaian. Ketika masyarakat kontemporer(Era kekinian) memasuki revolusi secara global dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi, tantangan yang dihadapi semakin rumit. Tantangan tersebut tidak mengenal ruang, waktu dan lapisan masyarakat yang b...

OPINI 1.0

  Dekaden Literasi yang Berujung Apatis Oleh :  Diah fitriatus sholihah  Banyak pepatah mengatakan “membaca adalah jendela dunia”. Ada apa dengan kalimat tersebut? . Beribu motivasi tentang membaca, beribu kata-kata menegaskan bahwa membaca buku adalah dunia ilmu dan pengetahuan. Akan tetapi, kondisi seperti apa yang saat ini terjadi? Miris. Mahasiswa yang dikatakan sebagai agent of change (agen perubahan ), agent of control sosial dan agent of culture tidak lagi mengenal apa itu literasi. Bahkan game online saat ini menjadi asumsi dan tradisi tersendiri di warung kopi. Sedangkan dari subtansi mahasiswa sendiri tidak mengenal, apa itu literasi dan bagaimana menanam serta memupuk budaya revitalisasi yang dulu, agar hidup kembali. Mahasiswa terbagi menjadi dua; pertama, mahasiswa akan belajar saat dihadapkan tugas dan permasalahan, atau kedua, dia akan belajar mempersiapkan sebuah tugas dan permasalahan sebelum menghadapi ujian. Sejatinya seorang agen perubahan tapi, ti...