Langsung ke konten utama

OPINI 4.0

 



Sejarah Lahirnya Kitab Kuning Di Pesantren

by Diah Fitriatus

Menurut kalangan para santri, istilah kitab kuning(yellow book)  sangat akrab sekali sewaktu mereka tinggal di pondok pesantren. Lapiran atau lembaran naskah yang di tulis  dengan teks berbahasa arab di atas kertas berwarna kuning, berisi tema-tema keislaman dari berbagai disiplin ilmu keilmuan yang di pelajari di pondok pesantren; ilmu akidah, ilmu akidah, ilmu fikih, ilmu akhlak, ilmu bahasa dan banyak lagi. Tetapi sedikit dari mrereka yang mengetahui sejarah asal mula lahirnya “Kitab Kuning”.


Dikemukakan dalam tulisan Martin Van Brueinessen berjudul “pesantren and kitab kuning: Maintenance And Countinuation Of A Tradition Of Religius Learning’’ menuliskan dalam pengantarnya bahwa “Kitab Kuning” di kenal akrab oleh kalangan santri nusantara , bentukknya yang mengunakan kertas berwarna kuning disertai komentar (syarh) pada sisi margarin atau bersambung (hasyiyyah) dengan teks pokok (matan)  kitab tersebut menjadi karakter yang khas untuk menyebut teks klasik ini dan menyempatkan sebagai warisan intelektual , meskipun beberapa peneliti barat dan kelompok reformis bahkan juga sebagai sarjana muslim modern menolak keabsahan sebagai literature ilmiyah, namun “kitab kuning” memiliki perannya tersendiri dalam merekam sejarah manusia, khususnya pendidikan pesantren yang sampai saat ini terus lestari dan mampu bertahan dalam kontestasi peradaban global.


Pada masa  sebelumnya, pendahulu Martin seorang orentalis yang tertarik melakukan riset di pesantren yang bernama L.W.C, van deg Berg dalam laporan penelitiannya berjudul “pesantren curriculum” pada tahun 1886, ia merinci koleksi kitab kuning yang berada dan di pelajari pesantren jawa dan Madura yang kisaran 50 judul danbeberapa diantaranya dijelaskan oleh Berg sebagai kitab kurikulum yang diterapkan di pesantren. Masyarakat pesantren mengenal dua penyebutan dalam dunia literasi, yakni “buku” untuk tulisan yang ditulis dengan huruf roman, “kitab” untuk skrip yang menggunakan skrip yang menggunakan huruf arab. Hal ini terjadi pada tahun 1960 dimana tipologi keislaman kala itu dibedakan ke dalam dua arus besar, modernis dan tradisionalis (Muhamadiyyah dan Nahdhotul Ulama’), maka cara menyebutkan lpembelajaran keilmuan islam dalam study yang lebih intensif, muncullah istillah penamaan “kitab kuning”.Seiring dikenalnya kertas berwarna kuning, hasil impor dari timur tenggah pada abad 20 awal.


Perkembangan teknologi dalam literasi pondok pesantren sudah di kenal sejak abad ke 18. Proses scanning (penyalinan) dalam bentuk digital menjadi salah satu fakta jika kitab kuning di wariskan pesantren jawa dalam beberapa disiplin ilmu keislaman dari tiga pondok pesantren di Jawa Timur, Pesantren Widang Tuban, Pesantren Tarbiahal-Thalabah Lamongan, Pesantren Tegal Sari Ponorogo. Hal yang menarik didalamnya, ditemukkan kitab-kitab kuning warisan pesantren dalam bentuk aslinya. Sebagian  ditulis dalam bahasa jawa pegon . hal ini menyimpulkan tanda sebuah potret sejarah intelektual pesantren yang unggul dalam ilmu pada masanya, dan yang patut disesali

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BERITA: Bahas Sertifikasi Haji, Prof. Ali beri 4 Kompetensi pada Calon Pembimbing Haji

  M. Ali Aziz, Guru besar UINSA saat memberikan pembekalan sertifikasi haji Reporter & Penulis : Diah Fitriatus Sholihah Selasa (15/12), Kementrian Agama Republik Indonesia (KEMENAG RI) Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji bertajuk “Strategi Pembimbingan Manasik Haji dan Ziarah”. Acara ini dilaksanakan secara luring yang bertempat di asrama haji, Embarkasi Surabaya, serta disiarkan secara daring melalui aplikasi Zoom. Acara tersebut mengundang Muhammad Ali Aziz, Guru besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menjadi salah satu narasumber. Ali Aziz menyampaikan beberapa poin kompetensi yang harus dimliki oleh pembimbing haji.  “Orang yang akan menjadi pembimbing haji minimal telah menguasai empat kompetensi ini, yaitu Kepribadian, Profesional, Komunikatif, dan Sosial,” jelas pria yang kerap disapa Prof. Ali tersebut. Menurut Prof. Ali, seorang pembimbing haji harus berakhlak mulia dan bersikap dewasa sehingga pembimbi...

OPINI 1.0

  Dekaden Literasi yang Berujung Apatis Oleh :  Diah fitriatus sholihah  Banyak pepatah mengatakan “membaca adalah jendela dunia”. Ada apa dengan kalimat tersebut? . Beribu motivasi tentang membaca, beribu kata-kata menegaskan bahwa membaca buku adalah dunia ilmu dan pengetahuan. Akan tetapi, kondisi seperti apa yang saat ini terjadi? Miris. Mahasiswa yang dikatakan sebagai agent of change (agen perubahan ), agent of control sosial dan agent of culture tidak lagi mengenal apa itu literasi. Bahkan game online saat ini menjadi asumsi dan tradisi tersendiri di warung kopi. Sedangkan dari subtansi mahasiswa sendiri tidak mengenal, apa itu literasi dan bagaimana menanam serta memupuk budaya revitalisasi yang dulu, agar hidup kembali. Mahasiswa terbagi menjadi dua; pertama, mahasiswa akan belajar saat dihadapkan tugas dan permasalahan, atau kedua, dia akan belajar mempersiapkan sebuah tugas dan permasalahan sebelum menghadapi ujian. Sejatinya seorang agen perubahan tapi, ti...

OPINI 3.0

Media Sosial dan Nilai Nilai Masa Depan by Diah Fitriatus Media Sosial berkembang menjadi ruang public (new public sphere), di ruang ini demokrasi berjalan sebenar-benarnya (atau serusak-rusaknya). Media sosial menjadi ruangan public yang bersifat paling sederajat, tidak ada perbedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat atas dasar kekuasaan, hak-hak istimewa, pangkat atau sesuatu yang tidak mungkin di dapat dari media dan ruang public lain. Dalam dunia masyarakat ataupun pendidikan saja, tidak mampu untuk sederajat itu, masih ada beberapa derajat sosial  yang menjembatani, dosen-mahasiswa, guru-murid, pandai-bodoh, remaja-dewasa dan sebagainya dalam dunia media sosial. Keyakinan positive atau negative masyarakat  demikian tidak perlu ada, semua adalah sama. Media sosial harus bisa menjembatani ruang komunikasi di dunia nyata yang kadang kaku. Pasca ditemukannya mesin cetak yang bisa dipindah oleh Gutteberg, majalah Koran dan beberapa media cetak dianggap mampu me...