RESENSI BUKU : MERASA PINTAR BODOH SAJA TAK PUNYA
v Identitas Buku
Judul Buku :
Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya
Penulis : Rusdi
Mathari
Penerbit : Buku
Mojok
Tahun Terbit :
2016
Jumlah halaman :
226 halaman
v
Sinopsis Buku :
Merasa Pintar,
Bodoh Saja Tak Punya: Kisah Sufi dari Madura. Sepintas, dari halaman sampul
buku dapat ditebak bahwa cerita yang dikisahkan dalam buku ini akan mengundang
senyum dan gelak tawa pembaca. Namun demikian, ketika halaman pertama buku ini
dibuka pembaca barangkali akan sedikit dibingungkan dengan potongan lirik
qawwali-nya Gulzar yang disampaikan oleh Mahfud Ikhwan di bagian kata pengantar
“ia memperdayamu… memperdayamu” diikuti dengan kalimat ajakan untuk tidak
mempercayai isi buku ini karena akan memperdaya para pembacanya.
Sepintas tiga
puluh kumpulan kisah dalam buku ini sangat sederhana, tetapi di balik
kesederhanaan kisah tersebut terkandung makna yang perlu direnungkan. Buku ini
berisikan kumpulan kisah Cak Dlahom dan orang-orang kampungnya pada bulan
Ramadan. Kisah yang disampaikan seolah-olah berurutan dan saling
berkesinambungan. Membaca buku dengan 226 halaman ini sungguh tidak membosankan
karena ketika membaca, kita bak diajak bercermin dan bermuhasabah. Lewat
perilaku dan karakter Cak Dlahom kita diajak kembali berpikir apakah semasa
hidup kita benar-benar sudah benar-benar menjadi manusia seperti yang
diinginkan oleh Tuhan. Atau jangan-jangan kita justru melenceng dari itu semua.
Seringkali dalam kehidupan sehari-hari dan dalam bermasyarakat kita merasa
pandai, tinggi, dan sempurna, padahal apakah bodoh saja kita punya?
Cak Dlahom dalam
buku ini ditampilkan sebagai orang yang berbeda dari kebanyakan warga
kampungnya sehingga tidak jarang dianggap aneh, tidak waras, dan sinting.
Bahkan, tidak jarang anak-anak dan warga kampung memberikan sebutan Cak Dlahom
gila sebab keanehannya. Perilaku Cak Dlahom memang tidak biasa seperti di saat
warga kampung berkumpul untuk menghias masjid kampung menyambut kehadiran bulan
Ramadan, Cak Dlahom justru memandang mereka yang tengah sibuk menempelkan
poster bertuliskan Marhaban Ya Ramadan; Selamat Datang Ramadan di masjid dengan
bersedih dan menangis sambil berteriak-teriak. Kelakuan Cak Dlahom yang tidak
lazim sudah dianggap wajar oleh warga kampung. Hanya Mat Piti yang bersedia
mendekati dan bertanya mengapa di saat yang lain gembira Cak Dlahom justru
menangis sembari berteiak-teriak. Jawaban Cak Dlahom sederhana, aku sedih dan
tidak yakin orang-orang sungguh bahagia menyambut kehadiran Ramadan. Aku kasian
karena mereka hanya pura-pura senang Ramadan akan datang.
Rangkaian cerita
dalam buku ini merupakan peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita
sehari-hari, sehingga apabila kita membaca buku ini secara tidak langsung kita
mereview ulang pemahaman kita dalam beragama.
Misalnya saja
dalam percakapan Cak Dlahom dengan Mat Piti
"Salatmu
dan sebagainya adalah urusanmu dengan Allah, tapi Sarkum yang yatim dan ibunya
Cukup banyak pelajaran yang bisa dipetik
dari kisah yang ada di buku ini. Dan yang paling bagus menurut saya pribadi
adalah :
“Bagaimana kamu
akan mengenali Allah sementara salatmu baru sebatas gerakan lahiriah.
Sedekah mu masih kau tulis di pembukuan
laba rugi kehidupanmu. Ilmumu kau gunakan untuk mencuri atau membunuh
saudaramu. Kamu merasa pintar sementara bodoh saja tak punya. Kamu itu hanya
bisa merasa. Padahal dua-duanya kamu tak punya.”
Satu lagi, Dalam
buku ini penulis juga menyampaikan beberapa pesan dengan cara yang berbeda dan
enak untuk di baca. Ada satu pesan yang menurut saya sangat dalam maknanya dari
buku ini “Batu tak sanggup jadi manusia karena merasa kalah keras di banding
hati manusia”.
Kelebihan
Buku
·
Bahasa
yang mudah dipahami
·
Kisah-kisah
yang disajikan sangat realita di kehidupan
·
Nasihat-nasihat
yang diberikan sederhana, namun menusuk sekali bahasannya
Kekurangan
Buku :
Cover buku
terlalu sederhana

Komentar
Posting Komentar