Revolusi
Tantangan Dakwah di Era Industri 4.0
Oleh
: Diah Fitriatus Sholihah
Jalan dakwah
bukan rentang yang pendek dan bebas hambatan, bahkan jalan dakwah penuh dengan
tantangan dan kesulitan dengan jarak yang terkira jauhnya.Hal tersebut perlu
kita pahami dalam setiap aktivitas dakwah, agar para juru dakwah siap
menghadapi segala kemungkinan yang terjadi di perjalanan, sehingga revolusi komunikasi dan informasi di jalan
dakwah bisa kita atasi.
Allah telah memberikan rambu-rambu kepada
kita tentang ini:
QS. Surat al-Ankabut {29}: 2-3
Tantangan dakwah
terbesar di era revolusi industry 4.0 ini adalah ketertinggalan aktivitas
dakwah. Hal tersebut disebabkan oleh permasalahan laten yang tak kunjung
menemui perpecahan penyelesaian. Ketika masyarakat kontemporer(Era kekinian)
memasuki revolusi secara global dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi,
tantangan yang dihadapi semakin rumit. Tantangan tersebut tidak mengenal ruang,
waktu dan lapisan masyarakat yang berbagai macam. Di sisi lain seluruh sektor
kehidupan dan hajat hidup manusia, termaksud masalah agama. Artinya dalam
kehidupan keagamaan umat manusia tidaak terkecuali islam dimanapun ia berada
akan menghadapi tantangan yang sama meskipun dalam nuansa yang berbeda.
Mengutip
landasan buah karya Soejatmoko dalam “Agama dan Hari Depan Umat Manusia”
menandaskan bahwa agamapun kini diuji dan ditantang oleh zaman.
Meskipun diakui bahwa satu pihak Revolusi Industri 4.0 menciptakan fasilitas yang memberi peluang bagi
pengembangan dakwah , namun antara tantangan peluang dewasa ini, agaknya tidak
berimbang. Pesantren menjadi salah satu lembaga aktivis dan lembaga dakwah
tidak lagi bersikukuh menggunakan cara-cara lama seperti ceramah sebagai
satu-satunya teknik dominan dalam menyampaikan materi dakwah dan pembelajaran.
Bukan karena jangkauan pendenggarnya yang terbatas ruang dan wakttutetapi juga
terkait fleksibilitas akses terhadap materi dakwah. Media dakwah yang berbasis
teknologi mutlak diperlukan, karena realitas masyarakat milineal telah dapat
mengakses ceramah, tausiyah dan materi dakwah secara mudah dimanapun dan
kapanpun mereka meningginkannya, maka secara perlahan media sosial telah banyak
memberi pengaruh pemahaman agama
terutama anak muda saat ini. Kondisi ini perlu menjadi perhatian pesantren
dalam mengimbangi literatur keislaman yang tersebar melalui media sosial (Medsos)
terutama pesan-pesan yang mengandung nilai-nilai kebebasan dan liberal. Dengan
memproduksi literature keislaman yang moderat, humanis dan toleran berbantukkan
teknologi. Salah satu upaya yang bisa dikembangkan di pesantren diantaranya:
1.
Membangun literasi digital
di pesantren
Literasi digital
adalah kemampuan menggunakan teknologi dan disertai cara mengambil ,
menggunakan dan menganalisis informasi yang disediakan oleh media digital
secara bersama. Literasi digital diterapkan dalam sistem manajemen pesantren
dan proses pembelajaran di ruang kelas. Sistem informasi pesantren atau sistem
manajemen pesantren berbasis ICT di era digital menjadi keharusan untuk
digunakan oleh pesantren yang berorentasi pada layanan dakwah berbentuk
pendidikan formal baik kepada orang tua maupun santrinya. Sistem manajemen
pesantren akan membantu pengelolaan adminitrasi dan sumberdaya di pesantren
mulai informasi dan sistem penerimaan , menjalankan aktivitas belajar-mengajar,
sampai santri menyelesaikan masa belajar mereka, kesemuannya terekam dengan
rapi di dalam sistem manajemen pesanten yang berbasis teknologi.
2.
Membuat Kajian Keislaman
Secara Online dan Offline
Dahulu dakwah
banyak dilakukan dengan menggunakan media cetak semacam Koran, bulletin,
majalah, lembaran pamvlet dan lainnya. Sekarang hal tersebut banyak
ditinggalkan, ongkos yang mahal, distribusi yang terbatas dan
distribusi-konsumsi produksi yang berpindah teknologi ke dunia digital. Bila
dulu dakwah dilakukan dengan media elektronik semacam tv dan radio yang
memiliki keterbatasan pada waktu siar, maka hari inipun mulai ditinggalkan
terutama di perkotaan, mereka lebih suka menonton live melalui media
youtube atau facebook yang menyediakan layanan streaming secara kegiatan
dakwah, sehingga mereka bisa belajar dan mengikuti proses penggajian tanpa
harus dibatasi ruang dan tempat. Yang mana hal tersebut mengonsumsi pesan-pesan
agama disela kesibukannya sebagai
manusia modern.
Dari bacaan di atas perlu kita sadari dalam
keterlibatan kita memasuki era saat ini, aktivitas dakwah dituntut untuk lebih peka terhadap
gejala-gejala perubahan sosial masyarakat. Aktivitas dakwah harus memperkuat
eksistensinya, maka dari itu upaya besar kita dalam mengedepankan kreativitas
dan inovasi terbaru terhadap tuntunan perubahan.

Komentar
Posting Komentar